Share it

Sabtu, 05 Juni 2010

Manusia dan Kebudayaan

MANUSIA dan KEBUDAYAAN


A. MANUSIA



        Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.
Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua.
Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang lainnya, berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan), afiliasi sosio-politik-agama (penganut agama/kepercayaan XYZ, warga negara XYZ, anggota partai XYZ), hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga angkat, keluarga asuh; teman; musuh) dan lain sebagainya.

1.  PENGERTIAN HAKIKAT MANUSIA
  
Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
  1. Makhluk yang memiliki tenga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
  2. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
  3. yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
  4. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
  5. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
  6. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
  7. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
  8. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

    1.1 Unsur unsur yang membangun manusia

    Jika kita berbicara tentang manusia, pasti akan menjadi perbicaraan yag sangat panjang dan tidak berujung, karena ciptaan Tuhan yang sangat sempurna ini terdapat banyak sekali hal yang dapat dijadikan bahan perbicaraan. sesuai judul postingan saya kali ini, tentang unsur-unsur pembangun manusia, akan dijabarkan apa sajakah faktor-faktor yang membangun manusia itu. Sebenarnya ada banyak sekali unsur-unsur yang membangun manusia, namun dari sekian banyak unsur-unsur itu, di sederhanakan menjadi 2 klasifikasi. yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Unsur jasmani adalah semua hal yang berhubungan dengan kebutuhan fisik manusia, seperti makan, minum, dan lain-lain. yang jika tidak di penuhi maka akan berakibat buruk bagi manusia itu. Sedangkan unsur rohani adalah semua hal yang berhubungan dengan kebutuhan rohani, atau hati manusia. seperti agama atau keyakinan, ketenangan hati, rasa aman, rasa bahagia dan lain-lain. Manusia tidak bisa hidup tanpa kedua unsur itu. dan manusia juga tidak bisa pula hidup dengan mengutamakan salah satu unsur dan mengabaikan yang lainnya. manusia butuh kedua unsur itu secara seimbang. percuma jika seseorang mendapatkan semua kebutuhan jasmaninya namun, kebutuhan rohaninya terabaikan. bagaimana perasaan anda jika anda bisa makan makanan yang nikmat setiap hari, namun uang untuk membeli makanan itu di dapatkan dari hasil mencuri. maka kita akan merasa kenyang namun hati akan merasa takut. takut akan ketahuan oleh orang lain, dan takut akan dosa. dan juga berlaku sebaliknya. jika kita merasakan ketenangan hati, kebahagiaan, namun jika tidak makan dan tidak minum, maka hidup seseorang tidak dapat berjalan dengan semestinya.
    Jadi, manusia hidup di dunia ini dengan cara menyeimbangkan kedua hal tersebut. jika kedua hal tersebut dapat diseimbangkan, maka manusia tersebut Insya Allah akan menjalani hidup yang tenang dan bahagia.
     
1.2. Kepribadian Bangsa Timur
Manusia mendiami wilayah yang berbeda, berada di lingkungan yang berbeda juga. Hal ini membuat kebiasaan, adat istiadat, kebudayaan dan kepribadian setiap manusia suatu wilayah berbeda dengan yang lainnya. Namun secara garis besar terdapat tiga pembagian wilayah, yaitu : Barat, Timur Tengah, dan Timur.
Bangsa Timur

Kita di Indonesia termasuk ke dalam bangsa Timur, yang dikenal sebagai bangsa yang berkepribadian baik. Bangsa Timur dikenal dunia sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat. Orang – orang dari wilayah lain sangat suka dengan kepribadian bangsa Timur yang tidak individualistis dan saling tolong menolong satu sama lain. Meskipun begitu, kebanyakan bangsa Timur masih tertinggal oleh bangsa Barat dan Timur Tengah. big_smile

 B. KEBUDAYAAN



2.1 Pengertian kebudayaan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan
bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu
sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang
kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai
sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala
pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Berikut ini definisi-definisi kebudayaan yang dikemukakan beberapa ahli:
1. Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
2. M. Jacobs dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.
3. Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar.

4. Dr. K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
5. William H. Haviland
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima ole semua masyarakat.
6. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
7. Francis Merill
  • Pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi social
  • Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.
8. Bounded et.al
Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
9. Mitchell (Dictionary of Soriblogy)
Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.
10. Robert H Lowie
Kebudayaan adalah segala sesuatu yang di peroleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.
11. Arkeolog R. Seokmono
Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.

2.2 Unsur unsur kebudayaan

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
- alat-alat teknologi
- sistem ekonomi
- keluarga
- kekuasaan politik
2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
- sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri
dengan alam sekelilingnya
- organisasi ekonomi
- alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan
utama)
- organisasi kekuatan (politik)
page

Unsur Kebudayaan
Mengenai unsur kebudayaan, dalam bukunya pengantar Ilmu Antropologi, Koenjtaraningrat, mengambil sari dari berbagai kerangka yang disusun para sarjana Antropologi, mengemukakan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia yang kemudian disebut unsur-unsur kebudayaan universal, antaralain :
  1. Bahasa
  2. Sistem Pengetahuan
  3. Organisasi Sosial
  4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
  5. Sistem Mata Pencaharian
  6. Sistem Religi
  7. Kesenian


2.3 Wujud Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai paling sedikit tiga wujud, yaitu: (1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya; (2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala atau dengan perkataan lain dalam alam pikiran.
Wujud kedua dari kebudayaan yang sering disebut sebagai sistem sosial, mengenai kelakuan berpola dari manusia itu sendiri, bersifat konkret dan dapat diobservasi serta didokumentasi.
Wujud ketiga dari kebudayaan disebut sebagai kebudayaan fisik, dan memerlukan keterangan banyak, karena merupakan seluruh isi total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat, maka sifatnya paling konkret dan berupa benda-benda yang dapat difoto, diraba dan diobservasi.
Wujud Kebudayaan menurut para ahli
J. J Honigmann (dalam Koenjtaraningrat, 2000) membedakan adanya tiga ‘gejala kebudayaan’ : yaitu : (1) ideas, (2) activities, dan (3) artifact, dan ini diperjelas oleh Koenjtaraningrat yang mengistilahkannya dengan tiga wujud kebudayaan :
  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Mengenai wujud kebudayaan ini, Elly M.Setiadi dkk dalam Buku Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (2007:29-30) memberikan penjelasannya sebagai berikut :
1. Wujud Ide
Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup.
Budaya ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun. Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat.
2.  Wujud perilaku
Wujud tersebut dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ini bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan karena dalam sistem ssosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat. Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa.
3. Wujud Artefak
Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya merupakan hasil fisik. Sifatnya paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan didokumentasikan. Contohnya : candi, bangunan, baju, kain komputer dll.

 2.4 Nilai Orientasi Budaya

Orientasi Kebudayaan Dasawarsa Kedua Abad 21
Bertrand Russel, seorang
filsuf terkemuka, dengan
jernih menegaskan bahwa
situasi stagnasi kebudayaan
adalah sebuah kondisi di mana
kebudayaan tidak berdaya. Manusia-
manusia yang menjadi
bagian dari sistem budaya itu
tidak mau mengambil bagian
dalam gerak kebudayaannya
sendiri. Tidak adanya prestasiprestasi
kesenian dan kesusasteraan
yang besar dan merosotnya
manusia-manusia kreatif.
Kota-kota di Sulsel sangat
jelas mengalami kemajuan secara
signifikan. Kota Makassar
sebagai ikon Sulawesi Selatan,
tumbuh menjadi kota kosmopolit
dengan berbagai sarana dan
infrastruktur yang memadai
sebagai sebuah tanda kemajuan.
Tetapi konsep kemajuan yang
sesungguhnya bukanlah berdasar
pada parameter fisik melainkan
pada berkembangnya produk-
produk fisik kebudayaan
sebuah komunitas.
Tentu saja sangat dibutuhkan
sebuah strategi kebudayaan
yang bersifat jangka menengah
dan panjang untuk keluar dari
situasi stagnasi kebudayaan di
Sulsel pada fase dasawarsa
kedua abad 21. Hal tersebut
tidak saja terkait dengan pasar
bebas yang mulai bergulir tahun
ini, tetapi juga pada aspek
sekaratnya kebudayaan lokal itu
sendiri.
Perubahan Sudut
Pandang Kebudayaan
Sudut pandang kebudayaan
harus segera diubah dari orientasi
ekonomik-birokratis menuju
etos-mandiri. Pemerintah Sulawesi
Selatan, tentu saja termasuk
pemerintah tingkat dua,
tidak lagi dapat memandang
persoalan kebudayaan sebagai
sebuah persoalan ekonomi.
Capaian-capaian kebudayaan
bukanlah sesuatu yang dapat
diukur secara ekonomik. Sifat
kebudayaan adalah sebuah capaian
nilai dan marka historis.
Kita tidak dapat memberi prediksi
harga pada sebuah nilai
“siri” misalnya, atau berapa
harga sebuah marka historis
Benteng Somba Opu (yang kini
telantar). Tari Pakarena, tidak
pernah bisa seharga sebuah mal
Orientasi Kebudayaan Dasawarsa Kedua Abad 21
atau fly over.
Pemerintah harus memandang
kebudayaan sebagai sebuah
konstruk etos yang di
dalamnya mencakup sistem
simbol kemanusiaan dan sistem
simbol sosial manusia Sulawesi
Selatan. Bagaimana kita menghargai
sebuah bendera kebangsaan,
harusnya sama kita menghargai
kesenian, sastra, musik,
dan tari yang dilahirkan dari
struktur kebudayaan kita. Menghargai
sistem simbol kemanusiaan
kita berarti juga harus
menghargai posisi kreator yang
menghasilkannya.
Hasil-hasil kebudayaan akan
tersusun menjadi sebuah menara
sejarah yang dapat menjadi
warisan tak ternilai pada masa
akan datang. Harga sebuah
lukisan Monalisa karya Leonardo
da Vinci tak lagi bisa dinilai
atau sebuah capaian nilai yang
tak ternilai bagi bangsa Italia
ataupun Prancis di mana Leonardo
da Vinci menetap hingga
akhir hayatnya. Karya-karya
Williams Shakespeare adalah
simbol capaian besar kemanusiaan
bangsa Inggris. Sama
persis dengan naskah epos Ilagaligo,
Tari Pakarena, atau Pinisi
bagi komunitas Sulawesi Selatan.
Ilagaligo adalah sebuah
monumen historis kemanusiaan
yang nilainya tidak dapat diukur
dengan membangun sebuah
monumen fisik.
Menjadi sebuah etos, kebudayaan,
adalah pranata penting
yang menunjukkan sebuah ciriciri
kemanusiaan. Pada aspek
inilah, pemerintah harusnya
membangun orientasi dan stratagi
kebudayaan. Suatu strategi
menanamkan karakter kemanusiaan
spesifik. Sistem kemanusiaan
yang pada akhirnya
akan meradiasi segala dimensi
kehidupan sosial. Bagaimana
karakter spesifik komunitas
etnik Sulawesi Selatan dalam
berpikir, bertindak, memimpin,
berkesenian, dan melahirkan
ilmu pengetahuan. Karakter
itulah yang kelak akan menjadi
warisan peradaban.
Tempat satu-satunya, kini,
ruang formal berkesenian hanyalah
Gedung Kesenian Societeit
de Harmoni. Gedung
peninggalan kolonial itu justru
Perjalanan kebudayaan
kontemporer Sulawesi
Selatan tidak hanya
mengalami stagnasi,
melainkan sebuah
kecenderungan gradasi
kebudayaan. Terancamnya
sistem
tradisi, terancamnya
bahasa lokal, tidak
tumbuhnya kreativitas seni
secara prestisius,
hilangnya ruang-ruang
publik kebudayaan,
sepinya festival-festival
adalah bagian kecil dari
sebuah fenomena stagnasi
kebudayaan di Sulawesi
Selatan.
mengalami fase postkolonial di
tangan pemerintah. Renovasi
yang tersendat-sendat oleh sistem
birokrasi membuat aktivitas
kesenian nyaris lumpuh. Situasi
miris tersebut hanyalah salah satu
contoh konkret bahaya birokrasi
dan pentingnya kemandirian
dalam membangun kebudayaan.
Tantangan
Kebudayaan Dasawarsa
Dari sebuah sistem kebudayaan
yang baik, manusia dapat
terkultivasi atau terkulturalisasi
menjadi unik. Keunikan manusia
inilah yang kemudian melahirkan
produk-produk etos kemanusiaan
yang otentik. Hasilhasil
kesenian dan sastra yang
unik; hasil-hasil ilmu pengetahuan
dan teknologi yang orisinal;
hasil-hasil pemikiran dan
intelektual yang spesifik; hingga
pola-pola perilaku yang khas.
Stagnasi kebudayaan akan
membuat manusia-manusia Sulawesi
Selatan kehilangan kemampuan
kultural untuk mengabstraksikan
nilai-nilai etosnya.
Manusia tanpa etos adalah
manusia yang tidak mempunyai
sistem nilai dalam merespons
dan menanggapi realitasnya.
Tentu saja efeknya adalah terseretnya
sebuah komunitas kultural
pada sebuah arus besar
kebudayaan global. Hilangnya
karakter diri, kaburnya identitas,
dan berhentilah denyut
sejarah kebudayaan komunitas
tersebut.
Kebudayaan yang berkembang
akan meradiasi komunitas
di dalamnya untuk tumbuh
dengan pandangan dunia dan
karakter sifat yang khas. Inilah
yang menjadi tantangan besar
komunitas Sulawesi Selatan
pada awal dasawarsa kedua abad
21. Tantangan bukan hanya pada
menggeliatkan kebangkitan
kebudayaan dari situasi stagnasi
yang mengarah pada gradasi
kebudayaan, tetapi juga bertahan
dari gelombang besar kebudayaan
global.
Tantangan kebudayaan kita
bukan saja pada aspek kehilangan
warisan nilai dan kesenian,
tetapi juga hilangnya orisinalitas
kemanusiaan kita. Kesalahan
kita memandang kebudayaan,
bukan tidak mungkin akan melahirkan
tragedi besar yang
membuat orang-orang Bugis,
Makassar, dan Toraja, hilang dan
tenggelam dalam sejarah global.
Capaian Keadatan
dan Keistiadatan
Proyeksi yang harusnya diukur
oleh pemerintah dalam
aspek kebudayaan bukanlah
konsep peradaban dalam konstruk
teori budaya Barat. Konstruk
peradaban selalu lebih
diukur dalam aspek yang umum
tentang kompleksitas perkembangan
sebuah komunitas. Peradaban
kontemporer lebih diukur
dalam aspek perkembangan dan
kemajuan tekonologi dan sarana-
prasarana fisik.
Konsep peradaban inilah
yang menjebak pemerintah memandang
capaian kebudayaan
pada aspek fisik semata dan gagal
dalam membangun strategi
kebudayaan yang relevan dengan
kondisi otentik lokal. Konsep
kebudayaan Barat cenderung
memandang kebudayaan
sebagai keberadaban. Sementara
keberadaban dihubungkan dengan
modernitas. Maka komunitas
yang beradab adalah komunitas
yang maju secara modern.
Capaian kebudayaan sebaiknya
diukur dari konsep keadatan
dan keistiadatan. Sebab konstruk
kebudayaan kita lebih mengacu
pada adat-istiadat. Dalam peradaban
modern, stigma adat dan
keistiadatan dianggap klasik
bahkan primitif sehingga cenderung
dijauhi oleh generasi muda
karena kontra-modern. Sejauh
mana adat-istiadat dapat menjadi
kekuatan kemanusiaan komunitas
manusia Sulawesi Selatan
adalah tantangan kebudayaan
kita yang sesungguhnya.
Waktu tentu sangat berharga,
dan membangun kebudayaan
tidak pernah sama dengan membangun
sebuah apartemen.
Ruang kebudayaan adalah titik
sandar fundamental manusia dalam
mengalami masa depannya.
Maka tak ada jalan lain, pemerintah
sudah saatnya sangat
serius membangun strategi kebuda-
yaan yang tepat. Jika tidak,
mungkin abad 21 adalah abad
terakhir bagi sejarah kebudayaan
manusia Bugis, Makassar,
dan Toraja.

2.5 Perubahan Kebudayaan


Perubahan Kebudayaan; Teknologi, Ideologi dan Nilai

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi  organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto, 1990).

            Perubahan kebudayaan bertitik tolak dan timbul dari organisasi sosial. Pendapat tersebut dikembalikan pada pengertian masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat adalah sistem hubungan dalam arti hubungan antar organisasi dan bukan hubungan antar sel. Kebudayaan mencakup segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolik dan bukan warisan karena keturunan (Davis, 1960). Apabila diambil definisi kebudayaan menurut Taylor dalam Soekanto (1990), kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat, maka perubahan kebudayaan dalah segala perubahan yang mencakup unsur-unsur tersebut. Soemardjan (1982), mengemukakan bahwa perubahan sosial dan perubahan kebudayaan mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut paut dengan suatu cara penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhannya.

2.5.1

Faktor yang menyebabkan perubahan  kebudayaan
Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan.

2.6  Hubungan Manusia dengan Kebudayaan

Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah : manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia. Tetapi apakah sesederhana itu hubungan keduanya ?

   Dalani sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, clan setclah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dcngannya. Tampak baliwa keduanya akhimya merupakan satu keSatuan. Contoh sederhana yang dapat k it a lihat adalah hubungan antara manusia dengan perat u ran-pe rat u ran

   kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya hams patuh kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.
Dart sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
1. Ekstemalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui ekstemalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia
2. Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.
3. Intemalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakamya sendiri agar dia dapat hidup dengan .baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.

Apabila manusia melupakan bahwa masyarakat adalah ciptaan manusia, dia akan menjadi terasing atau tealinasi (Berger, dalam terjemahan M.Sastrapratedja, 1991; hal : xv)
Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat, oleh karena itu mempunyai hubungan keterkaitan yang erat satu sama lain. Pada kondisi sekarang ini kita tidak dapat lagi membedakan mana yang lebih awal muncul manusia atau kebudayaan. Analisa terhadap keberadaan keduanya hams menyertakan pembatasan masalah dan waktu agar penganalisaan dapat dilakukan dengan lebih cermat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar