Share it

Senin, 01 Maret 2010

Jiwa Kepemimpinan

                   JIWA KEPEMIMPINAN 



    


               1. Pengertian Jiwa Kepemimpinan :

               Jiwa kepemimpinan atau juga disebut dengan Leadership adalah suatu sifat yang dianugrahkan TUHAN kepada manusia , yang tidak semua manusia memiliki sifat ini, yaitu sifat seseorang yang dapat mengendalikan atau mengatur seseorang atau sekelompok manusia dalam sebuah organisasi , seperti sekolah ,tempat kerja , keluarga ,dll . Leadership adalah bagian dari softskill .Arti dari softskill itu sendiri adalah suatu kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill) dan kemampuan dalam mengatur / mengendalikan dirinya sendiri .Softskill adalah pasangan dari Hardskill , jika seseorang mempunyai Hardskill yang tinggi , namun tidak di dukung oleh softskill yang bagus , maka orang tersebut tidak sukses dalam menjalani kehidupannya , begitu pula sebaliknya .Hardskill itu sendiri mempunyai arti sendiri , yaitu kemampuan menguasai ilmu pengetahuan teknologi dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya.Langkah-langkah penyusunan pengembangan softskills dapat dilakukan dengan berbagai cara:
  • Indetifikasi softskills, identifikasi softskills apa saja yang dibutuhkan oleh lulusan jurusan anda. untuk memperoleh ini, dapat dilakukan dengan meminta masukan dari alunmi ataupun industri pengguna lulusan.
    • Definisi softskills, setelah softskills yang dibutuhkan diidentifikasi, maka "pilihlah" softskills yang memang "paling" penting diadopsi dalam kurikulum jurusan anda.
      • Program pengembangan, (1) written curriculum, ini dilakukan dengan memasukan softskills yang telah ditentukan ke dalam rancangan pembelajaran. dengan demikian penguasaan mahasiswa terhadap softskills tertentu harus dimasukkan dalam aspek penilaian mata kuliah tersebut. (2) hidden curriculum, ini dilakukan secara informal yaitu melalui interaksi dosen-mahasiswa. dosen sebagai panutan (role model). dapat juga dilakukan dengan menciptakan atmosfir akademik di lingkungan jurusan anda. (3) Co-curriculum, manfaatkan kegiatan seperti magang (internship), kerja praktik (KP), ataupun KKN (kuliah kerja nyata). (4) Extra-curriculum, libatkan unit kegiatan mahasiswa sebagai wadah untuk melatih softskills mahasiswa tersebut.
        • Evaluasi softskills, tentukan alat ukur yang sesuai untuk menilai softskills yang talah anda masukan ke dalam kurikulum jurusan anda. 
                         2. Jenis - jenis Kekuasaan :
          Hubungan pemimpin dan kekuasaan adalah ibarat gula dengan manisnya, ibarat garam dengan asinnya. Dua-duanya tak terpisahkan. Kepemimpinan yang efektif (effective leadership) terealisasi pada saat seorang pemimpin dengan kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Ketika kekuasaan ternyata bisa timbul tidak hanya dari satu sumber, kepemimpinan yang efektif bisa dianalogikan sebagai movement untuk memanfaatkan genesis (asal usul) kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat.
          Refleksi dari kepemimpinan yang efektif, bertanggungjawab, dan terbalutnya hubungan sinergis antara pemimpin dengan yang dipimpin, adalah makna filosofis dari nasehat Rasulullah SAW: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap pimpinannya, seorang Amir (kepala negara) adalah pemimpin dan ia bertanggungjawab terhadap rakyatnya ….” (HR Bukhari & Muslim)
          Genesis kekuasaan, atau dalam terminologi lain: “jenis-jenis kekuasaan (types of power)” (Robbins-1991), atau  “basis-basis kekuasaan sosial (the bases of social power)” (French-1960), pada hakekatnya teridentifikasi dari lima hal: legitimate power, coercive power, reward power, expert power, dan referent power.

          • Legitimate Power (kekuasaan sah), yakni kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin sebagai hasil dari posisinya dalam suatu organisasi atau lembaga. Kekuasaan yang memberi otoritas atau wewenang (authority) kepada seorang pemimpin untuk memberi perintah, yang harus didengar dan dipatuhi oleh anak buahnya. Bisa berupa kekuasaan seorang jenderal terhadap para prajuritnya, seorang kepala sekolah terhadap guru-guru yang dipimpinnya, ataupun seorang pemimpin perusahaan terhadap karyawannya.
          • Coercive Power (kekuasaan paksa), yakni kekuasaan yang didasari karena kemampuan seorang pemimpin untuk memberi hukuman dan melakukan pengendalian. Yang dipimpin juga menyadari bahwa apabila dia tidak mematuhinya, akan ada efek negatif yang bisa timbul. Pemimpin yang bijak adalah yang bisa menggunakan kekuasaan ini dalam konotasi pendidikan dan arahan yang positif kepada anak buah. Bukan hanya karena rasa senang-tidak senang, ataupun faktor-faktor subyektif lainnya.
          • Reward Power (kekuasaan penghargaan), adalah kekuasaan untuk memberi keuntungan positif atau penghargaan kepada yang dipimpin. Tentu hal ini bisa terlaksana dalam konteks bahwa sang pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahannya. Penghargaan bisa berupa pemberian hak otonomi atas suatu wilayah yang berprestasi, promosi jabatan, uang, pekerjaan yang lebih menantang, dsb.
          • Expert Power (kekuasaan kepakaran), yakni kekuasaan yang berdasarkan karena kepakaran dan kemampuan seseorang dalam suatu bidang tertentu, sehingga menyebabkan sang bawahan patuh karena percaya bahwa pemimpin mempunyai pengalaman, pengetahuan dan kemahiran konseptual dan teknikal. Kekuasaan ini akan terus berjalan dalam kerangka sang pengikut memerlukan kepakarannya, dan akan hilang apabila sudah tidak memerlukannya. Kekuasaan kepakaran bisa terus eksis apabila ditunjang oleh referent power atau legitimate power.
          • Referent Power (kekuasaan rujukan) adalah kekuasaan yang timbul karena karisma, karakteristik individu, keteladanan atau kepribadian yang menarik. Logika sederhana dari jenis kekuasaan ini adalah, apabila saya mengagumi dan memuja anda, maka anda dapat berkuasa atas saya.
          Seorang pemimpin yang memiliki jiwa leadership adalah pemimpin yang dengan terampil mampu melakukan kombinasi dan improvisasi dalam menggunakan genesis kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Inilah yang disebut penulis dalam kalimat sebelumnya sebagai kepemimpinan yang efektif (effective leadership), dimana implementasinya adalah dengan “memanfaatkan genesis kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat”.
            
           3.Fungsi dan Tanggung Jawab Seorang Pemimpin
          Tujuan kepemimpinan adalah agar setiap kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar secara efektif dan efisien demi tujuan yang ingin dicapai,oleh karena itu kepemimpinan mempunyai beberapa fungsi yaitu :
          • Sebagai Pelaksana [ executive]
          Pemimpin tidak boleh memaksakan kehendaknya terhadap kelompok,tapi ia harus berusaha memenuhi kehendak dan kebutuhan kelompoknya.
          • Sebagai Perencana [ planer ]
          Pemimpin yang baik harus pandai membuat dan menyusun perencanaan,sehingga segala sesuatu yang diperbuatnya penuh perhitungan dan punya tujuan.
          • Sebagai seorang ahli [ expert ]
          Ia harus mempunyai keahlian,terutama keahlian yang berhubungan dengan tugas jabatan kepemimpinan yang dipegananya.
          • Mewakili kelompok dalam tindakannya keluar [ external group representative ]
          Ia harus menyadari baik buruk tindakannya diluar kelompok mencerminkan baik buruk kelompk yang dipimpinnya.
          • Mengawasi hubungan antar anggota kelompok [controller of internal relationship.
          Menjaga jangan sampai terjadi perselisihan dan selalu menjaga hubungan anggota agar tetap harmonis.
          • Bertindak sebagai wasit dan penengah [arbitrator and mediator ]
          Dalam menyelesaikan perselisihan pemimpin harus tegas dan tidak boleh pilih kasih.
          • Merupakan lambang dari kelompok [ symbol of the group ]
          Baik atau buruknya kelompok tercermin pada dirinya karena dia adalah lambang kelompok.
          • Sebagai pencipta atau memiliki cita-cita [ Idiologist ]
          Pemimpinharus mempunyai konsepsi yang baik dan realistis,sehingga dalam menjalankan kepemimpinan mempunyai garis yang tegas menuju arah yang di cita-citakan.
          • Bertindak sebagai seorang ayah [ father figure ]
          Tindakan pemimpin terhadap bawahan hendaknya dicerminkan seperti tindakan ayah kepada anak-anaknya.
          • Merupakan bagian dari kelompok [ exemplar ]
          Pemimpin bukanlah orang yang tinggi dari kelompoknya tapi dia merupakan bagian dari kelompoknya,segala tindakannya harus demi kemajuan kelompknya.
          • Pemegang tanggung jawab para anggota kelomponya [ surrogate for individual responsibility ]
          Jika kita teliti semua tugas pemimpin di atas,tepat kiranya apa yang dikemukakan oleh bapak pendidikan kita Ki Hadjar Dewantara,pemimpin yang baik harus menjalankan perannya sebagai berikut :
          1. ing ngarso asung tulodo
          2. ing madyo mangun karso dan
          3. ing { tut } wuri handayani.
          Menurut Hick ada delapan rangkaian peranan seorang pemimpin [ leader ship ] yaitu adil,memberikan sugesti,mendukung tercapainya tujuan,sebagai katalisator,menciptakan rasa aman,sebagai wakil organisasi,sumber inspirasi dan bersedia menghargai.
                            4.Tipe – Tipe Kepemimpinan
          Karena judul makalah ini adalah Kepemimpinan Kunci Keberhasilan Kepala Sekolah,maka dalam pembahasan tentang kepemimpinan lebih [penullis arahkan kepada kepemimpinan dalam pendidikan.Adapun tipe-tipe kepemimpinan dalam pendidikan adalah :
          • 1. Otokratis
          • 2. Laises Faire
          • 3. Demokratis
                             
                                                                                                             1.Kepemimpinan yang Otokratis
          Dalam kepemimpinan yang otokratis,pemimpin bertindak sebagai dictator terhadap anggota kelompoknya,baginya memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok.Penafsiran sebagai pemimpin tidak lain adalah menunjukkan dan memberi perintah,kewajiban bawahan adalah mengikuti dan menjalankan tidak boleh membantah.
                            2.Kepemimpinan yang Laises Faire
          Dalam tipe ini,sebenarnya pemimoin tidak memberikan pimpinan,tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang – orang yang dipimpinnya berbuat sekehendaknya,pemimpin tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan yang dilakukan bawahannya.Dalam tipe kepemimpinan ini biasanya tidak ada organisasi,segala kegiatan dilakukan tanpa rencana dan tanpa pengawasan dan pimpinan.

                            3.Kepemimpinan Yang Demokrasi
          Pemimpin yang demokratis,menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai dictator,melainkan sebagai pemimpin di tengah –tengah anggota kelompoknya,ia selalu berusaha menstimulis anggota-anggotanya untuk bekerja secara kooperatif untuk mencapai tujuan bersama,dalam melaksanakan tugasnya,ia mau menerima saran dan kritik dari bawahannya,pemimpin yang demokratis senantiasa berusaha memupuk rasa kekeluargaan dan persatuan dengan bawahannya.

                            5.Contoh Kasus
                            Peranan Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan
          Di Indonesia kepala sekolah yang memimpin suatu sekolah negeri diangkat oleh departemen yang membawahi sekolah itu setelah mempertimbangkan usul-usul dari instansi-instansi setempat,sedangkan pengangkatan kepala sekolah swasta dilakukan oleh dewan khusus dalam bidang pendidikan dari lembaga yang mendirikan sekolah itu.
          Funsi utama kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan adalah mempersiapkan situasi belajar dan mengajar yang baik.Di dalam melaksanakan fungsinya kepala sekolah harus benar-benar dapat memberikan pimpinan,ini berari kepala sekolah harus dapat mengadakan,mengatur dan memberikan fasilitas pendidikan supaya para guru dan siswa benar-benar berada dalam situasi belajar yang menyenangkan,ia harus mampu menyusun program –program yang dapat yang dapat membangkitkan aktivitas siswa dan guru.
          Selanjutnya sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah harus bertanggung jawab terhadap kemajuan dan kesejahteraan para guru.Kepala sekolah juga harus memberikan penilaian terhadap guru-guru sehingga dengan demikian nanti ia dapat memberikan bantuan kepada mereka demi perbaikan etos kerjanya di masa yang akan datang.
          Untuk menjalankan itu semua kepala sekolah dituntut mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi,seperti yang telah penulis uraikan pada bagian terdahulu,bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang di miliki seseorang untuk mempengaruhi,menggerakkan serta memotivasi orang untuk bekerjasama demi mencapai suatu tujuan.
           
           
           
           
                             6.Kesimpulan 
          Berdasarkan keseluruhan uraian didalam makalah ini maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan,yaitu :

          • Berhasil atau tidaknya seseorang dalam menjalankan tugasnya,sangat dipengaruhi oleh jiwa kepemimpinannya,sebab dengan jiwa kepemimpinannya itulah tujuan  yang dipimpinnya akan tercapai,
          • Kepemimpinan kepala sekolah adalah salah satu perwujudan kepemimpinan nasional,yaitu kepemimpinan pancasila,yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan sumber dayan mannusia yang handal.
          • Contoh kasus diatas membuktikan bahwa , softskill sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan . 
          • Seorang pemimpin yang memiliki jiwa leadership adalah pemimpin yang dengan terampil mampu melakukan kombinasi dan improvisasi dalam menggunakan genesis kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Inilah yang disebut penulis dalam kalimat sebelumnya sebagai kepemimpinan yang efektif (effective leadership), dimana implementasinya adalah dengan “memanfaatkan genesis kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat”.
             

          2 komentar: