Share it

Rabu, 24 Februari 2010

Gotong Royong

GOTONG ROYONG
 
           Gotong royong adalah salah satu Ilmu soft skill , yang merupakan sebuah ilmu pelengkap yang merupakan pelengkap dari hardskill . Softskill tak kalah pentingnya dengan hardskill , jika kita mempunyai hardskill yang baik , namun tidak didukung dengan softskill yang baik , maka ilmu hardskill yang kita miliki tidak akan berguna.
1. Pengertian Gotong Royong
Gotong royong adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan bersifat suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan dengan lancar, mudah dan ringan.
Contoh kegiatan yang dapat dilakukan secara bergotong royong antara lain pembangunan fasilitas umum dan membersihkan lingkungan sekitar.
Sikap gotong royong itu seharusnya dimiliki oleh seluruh elemen atau lapisan masyarakat yang ada di Kota Bulukumba. Karena, dengan adanya kesadaran setiap elemen atau lapisan masyarakat melakukan setiap kegiatan dengan cara bergotong royong. Dengan demikian segala sesuatu yang akan dikerjakan dapat lebih mudah dan cepat diselesaikan dan pastinya pembangunan di daerah tersebut akan semakin lancar dan maju. Bukan itu saja, tetapi dengan adanya kesadaran setiap elemen atau lapisan masyarakat dalam menerapkan perilaku gotong royong maka hubungan persaudaraan atau silaturahim akan semakin erat.
Dibandingkan dengan cara individualisme yang mementingkan diri sendiri maka akan memperlambat pembangunan di suatu daerah. Karena individualisme itu dapat menimbulkan keserakahan dan kesenjangan diantara masyarakat di kota tersebut.
Perubahan ekonomi Indonesia di bawah rezim Soeharto memungkinkan masuknya modal asing dan liberalisasi. Nilai-nilai budaya mulai dengan deras masuk dan menjadi bagian dari hidup masyarakat Indonesia. Kehidupan perekonomian masyarakat berangsur-angsur berubah dari ekonomi agraris ke industri. Indusri berkembang maju dan pada zaman sekarang tatanan kehidupan lebih banyak didasarkan pada pertimbangan ekonomi, sehingga bersifat materialistik. Maka nilai kegotong royongan pada masyarakat telah memudar.

2. Contoh Kasus :

Bupati Canangkan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat 2009

                                               Gotong-royong merupakan filosofi leluhur yang didalamnya mengandung aspek nilai-nilai yang tinggi kualitasnya yaitu integritas, nilai kebangsaan, dan kegotong-royongan. Ketiga hal ini adalah landasan semangat berdirinya negara. Oleh karena itu pantas apabila Pemerintah selalu mengingatkan kepada masyarakat akan fungsi pentingnya gotong royong dalam kegiatan sehari hari. Demikian ungkap Bupati Ngawi dr. H Harsono dalam sambutannya pada Pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat Tahun 2009 di Desa Begal, Kecamatan Kedunggalar (28/7/09).
Lebih lanjut beliau mengatakan, dengan teknologi tepat guna dan semangat gotong royong masyarakat, keberdayaan dan kemandirian masyarakat akan terwujud untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Untuk itu Pemerintah siap memberikan bantuan dalam bentuk apapun. Seperti pada bulan bakti tahun 2009 ini, Pemkab melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kab. Ngawi telah mengucurkan dana hampir 20 milyar melalui ADD dan 43 milyar melalui PNPM mandiri untuk 19 kecamatan yang ada, kurang lebih 1,173 milyar untuk gardutaskin di 7 kecamatan dan 600 juta lebih untuk program pengembangan sumberdaya lokal berbasis kawasan untuk 1 Kecamatan dan 3 desa.
Sedangkan untuk membantu program kelola lingkungan, Kantor Lingkungan Hidup memberikan 300 lubang resapan biopori (LRB), Dinas Kehutanan dan Perkebunan 10.000 bibit jati dan mesin perajang tembakau, Dinas Pertanian mensupport dengan pemberian pupuk organik untuk 25 ha area sawah serta pelayanan KB gratis / implan di 4 kecamatan yaitu Kedunggalar, Paron, Jogorogo dan Widodaren yang dilaksanakan oleh Badan pemberdayaan Perempuan dan KB.
“Semua bantuan ini, muaranya adalah membentuk kemandirian masyarakat, berapapun bantuan yang diberikan tapi apabila masyarakatnya tidak mandiri, semua akan sia-sia, dan inilah fungsi penting gotong royong. Keterikatan, kebersamaan, dan kepedulian akan tercipta karenanya, untuk itu pemerintah akan terus menerus menggelorakan gotong royong sampai terciptanya masyarakat yang berdaya dan mandiri”, tegas beliau.
Pada kesempatan ini, bupati dan rombongan berkesempatan untuk meninjau secara langsung pelaksanaan pemasangan implan untuk keluarga berencana yang diadakan di SDN begal, memeriksa pembangunan jalan desa serta Paguyuban Lansia Desa Begal.

 kesimpulan dari contoh diatas adalah walaupun masyarakat mendapatkan berbagai bantuan dari   pemerintah , namun jika masyarakat enggan untuk gotong royong dalam membangun desanya  , maka tak ada gunanya bantuan yang diberikan pemerintah .

NB : dari contoh kasus diatas ,kita dapat melihat bahwa seberapa pun besarnya kita mempunyai hardskill , atau modal yang kuat , tidak akan berguna jika tidak didukung oleh softskilll.

                                                                       End
                   rastafara_ido

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar